Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Agam peduli terhadap keluarga kurang mampu berbuka puasa bersama di rumah Murlianis (53) janda dengan 10  orang anak di Sungai Aua, Jorong V Sungai Jariang, Nagari Lubuk Basung, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Kamis (6/5/2021).

Hal itu disampaikan Mursyidi Ketua PWI Agam, Jumat (7/5/2021).

Mursyidi menambahkan, sebelumnya pengurus buka bersama dan Shalat Maghrib di Masjid Khairul Mukminin. Kemudian  pengurus PWI dan pengurus DPD Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Agam, menuju rumah Murlianis makan bersama.

"Untuk kebutuhan berbuka dan makan bersama seluruhnya difasilitasi oleh PWI  dengan dukungan beberapa donatur," katanya.

Kegiatan buka puasa di rumah warga kurang mampu merupakan program PWI Agam, namun dengan kondisi Covid-19 kegiatan dilakukan terbatas dengan menerapkan prrotokol kesehatan. selama Ramadhan 1442 Hijriyah.

"Ini merupakan rumah yang keempat kita kunjungi di Ramadhan 1442 hijriyah, masih tinggal satu kali kegiatan yang akan dilaksanakan, kita masih mencari keluarga yang  akan dikunjungi," tuturnya.

Disamping itu, PWI juga menyerahkan bantuan kebutuhan pokok berupa beras, telur, minyak goreng, gula dan sirup.

Setelah buka bersama, tim kembali melanjutkan Safari Ramadhan di Masjid Khairul Mukminin.

Di masjid, Mursyidi menyalurkan bantuan Alquran, jam dinding dan bibit tanaman untuk jamaah.

Bantuan itu berasal dari Wizna Optikal, DPD LDII Agam, Baznas Agam, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Bank Nagari, PDAM Tirta Antokan dan RSUD Lubukbasung.

Mursyidi berharap bantuan ini menjadi berkah dan bermanfaat bagi warga dan jamaah," katanya.

Dengan kehadiran PWI di rumah Murlianis (53) merasa terharu dan mengucapkan terimakasih atas kunjungan dan bantuan yang diberikan PWI Agam.

Murlianis bercerita, suka duka hidup dengan 10 orang  anak, sepeninggal ditinggal mati oleh suami.  Tinggal di rumah kontrakan dengan biaya Rp2 juta per tahun bersama delapan orang anaknya. Dua orang anak telah menikah dan tinggal di daerah lain.

Untuk membiayai 8 anaknya, ia bekerja sebagai buruh membuat kerupuk nasi dengan pendapatan tidak menentu.

"Untuk membuat kerupuk tergantung orderan dan cuaca," kata Murlianis mengakhiri.



Informasi Serta Merta Lainnya